Surat Al Falaq dan surat An Nas disebut-sebut menjadi penyebab sembuhnya Nabi Muhammad SAW yang kala itu terkena sihir. Beliau disihir oleh Labid bin Al-A’shom yang membuat beliau sakit parah. Mempelajari tafsir surat An Nas akan membuat siapa saja menjadi mengerti.

Bahwa memohon perlindungan itu hendaknya hanya kepada Allah SWT. Berbicara soal permohonan perlindungan, surat An Nas ini bersama surat Al Falaq juga biasa disebut dengan al muawwidzatain yang artinya memang dua perlindungan.

Teks Surat An Nas dan Terjemahannya

Teks Arab dan Terjemahan Surat An Nas dari Ayat Pertama hingga Terakhir
Teks Arab dan Terjemahan Surat An Nas dari Ayat Pertama hingga Terakhir

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ – ١

(1) Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia,

مَلِكِ النَّاسِۙ – ٢

(2) Rajanya para manusia,

اِلٰهِ النَّاسِۙ – ٣

(3) Sembahan (para) manusia,

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ – ٤

(4) Dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi,

الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ – ٥

(5) Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ࣖ – ٦

(6) Dari (golongan) jin dan manusia.”

Tafsir Surat An Nas per Ayat

Tafsir Surat An Nas Lengkap beserta Makna Tiap Ayatnya
Tafsir Surat An Nas Lengkap beserta Makna Tiap Ayatnya

Singkatnya, dalam surat An Nas terdapat permohonan perlindungan kepada Allah SWT. Permohonan perlindungan ini menggunakan perantara 3 asma Allah yang sekaligus mencakup tiga makna keyakinan tauhid kepada Allah SWT.

Adapun tiga asma tersebut ialah ar Rab, al Malik dan Ilaahi. Sedangkan untuk tafsir masing-masing ayat dalam surah An Naas, mulai dari ayat pertama, hingga terakhir dapat ialah sebagai berikut:

1. Ayat Pertama

Surat An Nas dibuka dengan kata qul yang artinya adalah katakanlah. Jika meninjau Tafsir Al Azhar, bisa diketahui bahwa kata ini bermakna katakanlah wahai utusan-Ku lalu ajarkan juga kepada mereka.

Dilanjutkan dengan kata a’udzu yang diambil dari kata ‘audz. Makna dari kata ini ialah menuju sesuatu untuk menghindari sesuatu yang ditakuti. Sementara Rabb bermakna kepemiliharaan, kepemilikan dan juga pendidikan yang melahirkan pembelaan dan juga kasih sayang.

Sementara itu dalam Tafsir Fi Zilalil Qur’an dijelaskan bahwa Rabb ialah Tuhan yang Melindungi, yang Menjaga, yang Mengarahkan dan yang Memelihara. Dengan kata lain, yang dimaksud adalah Allah SWT yang menjadi Rabb segala makhluk. Baik dari kalangan jin, maupun manusia, segalanya kepunyaan Allah SWT.

Akan tetapi, dalam ayat yang pertama ini kata Rabb lebih dikhususkan kepada manusia karena terdapat kata an naas setelahnya. An naas itu sendiri adalah kelompok manusia. Sehingga, yang ditekankan pada ayat ini, lebih pada manusia (sebagai makhluk).

2. Ayat Kedua

Ayat kedua ialah malikin naas yang artinya adalah raja manusia. Kata malik dalam ayat ini artinya adalah raja dan umumnya kata ini dipakai untuk menyebut penguasa yang mengurus manusia. Malik yang dimaksud di sini berbeda dengan maalik yang artinya pemilik.

Karena maalik yang berarti pemilik umumnya dipakai untuk menyebutkan orang yang berkuasa atas sesuatu yang tidak bernyawa. Itulah mengapa dalam ayat kedua ini terdapat kata malik yang tidak dibaca panjang sebagaimana yang terdapat dalam surat Al Fatihah.

Dalam Fi Zilalil Qur’an, al malik artinya adalah Tuhan yang Mengambil Tindakan, Tuhan yang Berkuasa dan Tuhan yang Menentukan Keputusan. Sedangkan dalam Tafsir Al Azhar, malik artinya adalah raja atau penguasa, sultan atau pemerintah tertinggi.

Namun bila huruf mim dibaca panjang menjadi maalik artinya berubah menjadi yang memiliki. Secara gamblang, ayat yang kedua surat An Nas ini menjelaskan bahwasanya Allah SWT itu adalah malik, yakni penguasa yang memiliki kekuasaan tertinggi atas manusia.

3. Ayat Ketiga

Makna Surah An Naas pada Ayat Ketiga
Makna Surah An Naas pada Ayat Ketiga

Ayat ketiga adalah ilaahin naas. Kata ilahi asal katanya ialah aliha – ya’lahu. Artinya adalah menuju serta bermohon. Kemudian disebut dengan ilaah karena semua makhluk menuju dan juga bermohon kepada-Nya dalam memenuhi berbagai kebutuhan.

Namun pendapat yang lain menyatakan bahwa kata ilaah arti awalnya adalah mengabdi atau menyembah. Jadi ilaah ialah Dzat yang disembah dan kepada Dia segala pengabdian tertuju.

Sayyid Quthb telah menjelaskan bahwasanya al ilaah berarti Tuhan yang Berkuasa, Yang Mengurusi, Yang Mengungguli serta yang Maha Tinggi. Dalam sifat-sifat ini terkandung perlindungan dari kejahatan yang merasuk dalam dada sementara yang bersangkutan tidak paham cara menangkalnya.

4. Ayat Keempat

Dalam ayat keempat terdapat kata syarr yang artinya adalah mudlarat atau buruk. Ibnu Qayyim al Jauziyah menyebutkan bahwa syarr itu mencakup dua hal, yakni yang mengantar pada sakit dan sakit itu sendiri.

Sementara alwaswas pada awalnya artinya adalah suara yang amat halus. Arti ini selanjutnya berkembang menjadi bisikan dan umumnya merujuk pada bisikan negatif. Oleh sebab itu, sebagian ulama memahaminya dengan setan.

Pasalnya, setan sering membisikkan rayuan dalam hati manusia. Sementara kata al khannas artinya adalah bersembunyi, mundur dan kembali.

Jadi, maknanya adalah setan sering menggoda manusia kembali manakala dia lengah serta melupakan Allah SWT. Sebaliknya, setan akan mundur saat manusia mengingat Allah SWT.

5. Ayat Kelima

Selanjutnya, ayat kelima dalam surat an nas menjelaskan antara manusia dan setan. Pada ayat ini, ditegaskan kembali bahwa Setan dapat (dan akan selalu) membisikkan keburukan bagi kaum manusia.

Ayat kelima menyebutkan bahwasanya setan bisa membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia. Bisikan dari setan ini adalah ajakan kepada manusia agar taat kepadanya dengan kata-kata yang amat tersembunyi, namun bisa sampai dalam hati tanpa ada suara yang terdengar sedikitpun.

Dalam surat lainnya, tepatnya Surat Al Hijr, Allah terlah berfirman:

وَإِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ

Dan sesungguhnya kutukan (bagi setan) itu (akan) tetap menimpamu sampai hari kiamat. 

قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Iblis berkata: “ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.

Dalam ayat tersebut, Allah Subhanahu Wata’ala menyebutkan bahwa kutukan terhadap Setan akan berlaku hingga akhir zaman.

6. Tafsir Surat An Nas Ayat Terakhir

Tafsir Surat An Nas Ayat Ke Enam
Tafsir Surat An Nas Ayat Ke Enam

Ibnu Katsir memberikan penjelasan bahwa ayat 6 surat An Nas adalah tafsir dari ayat 5 sebelumnya. Dalam ayat 6 ini disebutkan tentang jin dan manusia. Sementara Sayyid Quthb memberikan penjelasan bahwa bisikan jin itu tidak bisa diketahui bagaimana terjadinya.

Akan tetapi bekas-bekas pengaruhnya dalam kehidupan dan jiwa bisa dijumpai. Sedangkan manusia, diantara bisikan yang mereka lontarkan ada yang justru lebih berat dibandingkan dengan bisikan setan jin.

Sayyid Quthb lantas memberikan contoh seseorang yang membisikkan kejahatan kepada temannya. Atau penasehat yang membisikkan kejahatan pada penguasa serta berbagai jenis bisikan lain yang bisa menjerumuskan. Itu juga termasuk golongan setan yang asalnya dari manusia.

Dari tafsir surah An Naas tiap ayat tersebut, bisa dipahami bahwa setiap mukmin hendaknya senantiasa memohon perlindungan kepada Allah SWT dan membaca surat An Nas juga termasuk dalam upaya melindungi diri.

Akhirnya, cukup sekian pembahasan mengenai tafsir surat An Nas dari Ayat Quran. Mudah mudahan dengan membaca dan memahami tafsir surah an naas ini, kita bisa dijauhkan dari rasa was was maupun bisikan iblis dan para pengikutnya. Akhirul kalam, billahi taufiq wal hidayah, wallahu a’lam bish showab. Waasalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.

About the Author

Hanan Afifi

Alumni pondok pesantren modern di Kabupaten Semarang dan salah satu penulis di Ayat-Quran.com.

View All Articles