Dalam memahami ayat dalam Al-Qur’an, terkadang tidak bisa hanya menggunakan arti katanya saja. Ada beberapa kata yang membutuhkan penafsiran khusus agar mudah dicerna dan dipahami. Demikian juga dalam memahami tiap Ayat Quran, sehingga harus mengerti tafsir surat Al Falaq.

Mengingat pentingnya tafsir dalam Al-Qur’an inilah, banyak ulama-ulama yang membuat buku tafsir dan digunakan hingga saat ini. Seperti tafsir Ibnu Katsir, tafsir Jalalain, Quraish Shihab, dan masih banyak lagi. Dari beberapa penafsir ini, bisa diambil tafsir dari surah Al Falaq yang cukup luas.

Melalui artikel kali ini, kita akan belajar bersama mengenai Tafsir Al Falaq, utamanya dari ketiga sumber di atas. Yaitu, Kitab Tafsir Ibnu Katsir, Jalalain, dan Quraish Shihab.

Al Falaq dan Terjemah Indonesianya

Bacaan Surah Al Falaq Lengkap beserta Terjemahannya
Bacaan Surah Al Falaq Lengkap beserta Terjemahannya

Sebelum membahas lebih jauh mengenai Tafsir dalam surah Al Falaq, mari kita membaca kembali surah Al Falaq berikut:

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ – ١

مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙ – ٢

وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ – ٣

وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ – ٤

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ ࣖ – ٥

Terjemahannya:

(1) “Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar). (2) Dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan. (3) Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. (4) Dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya). (5) Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.””

Tafsir Surat Al Falaq Per Ayat

Tafsir Surat Al Falaq Tiap Ayat dari Beberapa Mufassir
Tafsir Surat Al Falaq Tiap Ayat dari Beberapa Mufassir

Untuk mempermudah dalam penafsiran Al Falaq, maka tafsirnya bisa dikategorikan setiap ayatnya. Berikut adalah tafsir dari surat Al Falaq menurut tokoh tafsir:

1. Ayat Pertama

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ – ١

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar)”.

Dalam ayat ini bermakna meminta perlindungan kepada Robbil Falaq, yang artinya Tuhan penguasa subuh. Jika dilihat dari asal katanya dalam ilmu sorof, Falaq artinya membelah. Namun kemudian diartikan subuh jika diambil dari kata Al Isbah. Artinya, Allah membelah malam dengan subuh.

Dalam tafsir Ibnu Katsir, makna Al Falaq diperjelas dengan riwayat yang disampaikan oleh Ibnu Abbas, bahwa Al Falaq adalah subuh.

Namun, ada pendapat lainnya yang mengatakan bahwa Al Falaq merupakan sumur di dalam neraka Jahannam yang mempunyai penutup. Makna ini berdasarkan hadits  yang datang dari Abu Hurairah ra. Namun, hadits ini tergolong dha’if karena ada sanadnya gharib dan tidak bisa dijadikan rujukan.

Dari dua pendapat ini, Ibnu Jarir mengatakan bahwa makna yang benar adalah subuh. Makna inilah yang kemudian menjadi rujukan sebagian besar ulama.

2. Ayat ke Dua

Al Falaq Ayat Kedua Mengenai Kejahatan Makhluk
Al Falaq Ayat Kedua Mengenai Kejahatan Makhluk

مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙ – ٢

“Dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan.”

Dari kejahatan makhluk di sini diartikan sebagai semua makhluk yang diciptakan Allah. Hasan Al Basri menyebutkan bahwa Iblis dan keturunannya, serta neraka Jahanam termasuk makhluk yang Allah ciptakan.

Tidak hanya itu, kejahatan makhluk juga termasuk pada kejahatan yang ada pada diri sendiri. Ini berkaitan dengan keberadaan nafsu dalam diri manusia yang senantiasa mengajak kepada kejelekan.

Dengan begitu, setiap kali seseorang membaca Al Falaq, maka perlindungan yang diminta pertama kali adalah perlindungan dari kejahatan yang ada pada diri sendiri. Setelah itu, barulah kejahatan makhluk Allah lainnya.

3. Ayat ke Tiga

وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ – ٣

“Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita.”

Kelanjutan dari ayat sebelumnya, ayat ke tiga ini masih meminta perlindungan dari kejahatan malam, dimana waktu ini rentan akan tindak kejahatan karena suasana yang gelap dan tidak mudah terlihat.

Ada perbedaan makna malam dalam ayat ini. Menurut Mujahid, Ibnu Abbas, Khasif, serta Al Hasan, malam gelap gulita yang dimaksud adalah ketika matahari telah tenggelam. Sedangkan menurut Attiyah dan Qatadah, malam hari dalam Al Falaq ini artinya adalah apabila malam hari telah pergi.

Pendapat yang mengatakan bahwa makna Ghosiq di sini adalah malam, juga telah diperkuat oleh tafsiran Al-Qur’an surat Al Israa’ ayat 78. Dalam ayat tersebut ada kata ghosiq yang disandingkan dengan lail. Artinya adalah gelap malam saat matahari sudah terbenam.

4. Ayat ke Empat

Tafsir Surat Al Falaq Ayat Keempat Mengenai Kejahatan Penyihir
Tafsir Surat Al Falaq Ayat Keempat Mengenai Kejahatan Penyihir

وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ – ٤

“Dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya).”

Kejahatan selanjutnya yang disebutkan dalam Al Falaq adalah wanita-wanita tukang sihir. Dalam menafsirkan ayat ini tidak bisa lepas dari asbabun nuzulnya yang bermula dari peristiwa sihir yang dilakukan orang Yahudi kepada Nabi Muhammad SAW.

Dalam ayat ini disampaikan detail cara penyihir melakukan aksinya, yakni dengan menghembuskannya pada buhul-buhul.

Selain itu, tukang sihir yang dimaksud adalah penyihir wanita. Ini berdasarkan kata An Nafatsaat pada ayat ke empat. Ayat ini menyebutkan penyihir wanita, karena sebagian besar tukang sihir adalah seorang wanita.

Meskipun begitu, apabila ayat ini dimaknai dari sifat penyihir tersebut, maka maknanya bisa untuk penyihir perempuan ataupun laki-laki.

5. Tafsir Tafsir Surat Al Falaq Ayat ke Lima

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ ࣖ – ٥

“Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”

Makna hasad dalam tafsir ayat ke lima ini berkaitan dengan salah satu sifat tercela yang harus dijauhi umat muslim, yakni hasad. Hasad sendiri dalam Ayasarut Tafassir dijelaskan sebagai sifat seseorang yang berkeinginan agar nikmat yang ada pada orang lain hilang ataupun pindah kepada dirinya.

Ciri-ciri orang yang memiliki sifat hasad ini adalah:

  • Merasa benci ketika melihat nikmat yang ada pada orang lain.
  • Marah dengan pembagian nikmat dari Allah.
  • Merasa kikir dengan karunia yang Allah berikan.
  • Tidak mau menolong orang beriman, dan malah menginginkan hilangnya nikmatnya.
  • Menolong iblis.

Dengan definisi dan beberapa ciri di atas, hasad bisa dimaknai sebagai sifat dengki menurut istilah bahasa Indonesia. Sifat hasad juga bisa menyebabkan penyakit ‘ain yang membuat orang sakit, bahkan gila. Jadi, ayat ini juga mencakup permohonan perlindungan dari bahaya ‘ain.

Khusus dengki atau hasad ini, merupakan salah satu penyakit yang perlu kita hindari. Sifat Hasad ini biasa muncul ketika saudara menerima rizki dari Allah Subhanahu Wata’ala. Nabi Muhammad Sallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda:

ﺩَﺏﱠﺇِﻟَﻴْﻜُﻢْﺩَﺍۤﺀُﭐْﻷُﻣَﻢِﻗَﺒْﻠَﻜُﻢْﺑَﻐْﻀَﺎﺀُﻭَﺣَﺴَﺪٌﻫِﻲَﺣَﺎﻟِﻘَﺔُﭐﻟﺪﱢﻳْﻦِﻻَﺣَﺎﻟِﻘَﺔُﭐﻟﺸﱠﻌْﺮ 

Artinya: “Telah ada dalam tubuh kalian penyakit-penyakit umat terdahulu (yaitu) benci dan dengki, sifat itulah yang membinasakan agama (terdahulu), bukan dengki mencukur rambut”. (H.R. Ahmad dan Tirmidzi).

Dari hadits tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Hasad termasuk sifat tidak terpuji yang perlu kita hindari.

Apakah ada pertanyaan terkait artikel dari Ayat-Quran.com? Kalau iya, mari berdiskusi bersama melalui kolom komentar yah. Mudah mudahan dengan belajar tafsir, kita bisa mendapatkan syafaat Al Qur’an pada hari Akhir nanti. Allahumma Aamiiin.

Pembahasan tafsir surat Al Falaq sebenarnya masih sangat luas serta berbeda-beda sesuai buku tafsir yang digunakan. Jika Anda ingin mempelajari tafsir dari surah Al Falaq secara lebih mendalam, bisa membaca buku-buku tafsir yang ada di perpustakaan islam, atau belajar langsung dengan guru. Wallahu A’lam Bisshowab.

About the Author

Hanan Afifi

Alumni pondok pesantren modern di Kabupaten Semarang dan salah satu penulis di Ayat-Quran.com.

View All Articles